Kumpulan 18 Puisi Mengenai Waktu, Dan Menunggu
Kumpulan 18 Puisi Mengenai Waktu, Dan Menunggu

Kumpulan 18 Puisi Mengenai Waktu, Dan Menunggu

Waktu? mungkin kita berfikir bahwa waktu merupakan kuantitatif berbentuk angka. bukan hal yang salah, karena pengertian waktu itu bisa berbagai macam, tergantung sudut pandan.

Semua orang pasti pernah menunggu dan semua orang juga tahu bahwa saat menunggu waktu terasa sangat lama. Karena fokus kita pada satu hal yang membuat interval waktu menurut manusia menjadi terasa lebih lama dari waktu yang sebenarnya, hal ini dipengaruhi oleh kualitas emosional kita.

Kumpulan 18 Puisi Mengenai Waktu, Dan Menunggu

Menyulam waktu
Perempuan itu
nyatanya terlalu menginginkan hujan
Ingin mendekap, dalam-dalam
Sayangnya, hujan enggan cepat didekap

Ia harus menghitung putaran detik di jam dinding kamarnya
Berminggu-minggu, berbulan-bulan
Sampai bayi merah kini telah merupa mawar merekah

"Jangan hanya menunggu, lakukan sesuatu" ucap rintik di satu waktu
Maka bila suatu saat nanti hujan tak mau lagi
Mengalirkan harap pada dekap
Setidaknya dada puan itu telah kuyup oleh gerimis

Namun
Mata air yang katamu benar bening,
nyatanya telah kering oleh sajak yang dituturnya tiap-tiap malam

Perempuan itu,
telah beku.

Sebelum Pulang
Sebelum kau benar-benar pergi meninggalkan sepetak kesunyian di tempatku terbaring.
Kumohon tinggallah sejenak, meski setengah hari untuk menyulam waktu
Agar menjadi sepotong riwayat yang sempurna kita lahirkan,
Mengalir indah dalam beberapa jarum waktu dan gerimis yang sangat tajam
Memuaikan beberapa nama ke angkasa.
Sebelum kau benar-benar pergi meninggalkan aku.
Kumohon engkau mengerti perjalanan rinduku
Yang terburu oleh waktu.
Hanya bayang imajinasi yang bergelayut dalam pikiranku, merajut mimpi yang tersisa
Kala dirimu selangkah lebih jauh dariku.
Di ranjang ini, aku terbaring dan berdoa
Agar kau mau untuk merangkum cerita
Di tiap kergesaan menyulam waktu bersamaku.

MERAWAT RINDU
Masih yang tulus ku rasa
sedetik pikiran tanpa tak meluka
dengan sebingkai noda paling indah merona
"La-la-la-la" denting relungku menjajaki hamparan jiwa
Sebuah senyum di ujung waktu penuh rana
Mungkin yang setia ku bawa
memantik rindu tak bertepi dengan raga
merajut waktu kalbu dengan nyawa
Apalah sebuah nada "sya-da-du-du-da-da"
hayalku tak pernah luput tanpa dia
Serbuk detik ku tumpuk
Misiu menit ku genggam
Debu jam ku jadikan tumpu
Tak peduli tampungan tahun
yang ku tahu hanya menyulam waktu
Hayal bukan berarti ku tak berakal
Mati bukan berarti ku tak mampu menari
Gila bukan berarti ku tak berdaya
Ini hanya ku tak suka bahagia
tanpa dia yang selalu di dada, selamanya.

Putaran Ambisi
Degup jantung menghempas ke seluruh tubuh
Memanaskan tujuan tiap kalo tak sejalan
Luapkan ambisi seisi tubuh
Yang menggoncang ruang putaran
Derai langkah terus berjalan
Dibelakang waktu
Melampaui tiap-tiap keinginan yang mulai memuncak
Hingga melupakan sibuknya menuju jalan yang abadi
Tanpa pikiran yang tenang
Maka hari ini
Akan ku sumpah
Waktu lah yang selalu menungguku

Menantimu
Denting demi denting waktu terlalu cepat bergerak.
Tetes demi tetes embun terlalu cepat mengering.
Sirat demi sirat sinar terlalu cepat tersebar. Namun mataku..
Terbujur kaku menatap satu titik semu pada sebidang pintu itu.
Tempat dimana bayang sosoknya tiba.
Tempatku berjumpa dengan kehangatan. Butiran debu berbisik mengajakku pergi.
Namun kursi tua ini terlalu nyaman untuk ku beranjak.
Aku terjebak pada waktu yang enggan menjawab kapan sosok itu tiba.
Besitan demi besitan bayangnya temani jenuhku.
Buatku semakin enggan tuk bergerak.
Ku perangi arus kesunyian.
Ku arungi arus kejenuhan.
Ku sulam waktu demi waktu.
Untuk menghangatkanmu dengan rajutan kasih.

Takdirku
Sejak menatap dunia, aku bernafas dalam penjara
Penjara yang membuatku sekilas nampak remaja
Namun bahkan terhadap asa aku hanya menyapa
Lalu kau tanpa sengaja melintasi senja
Dimana aku sempat mencoba
Terbangun dari semua ilusi belaka
Yang sering ku anggap nyata
Selaksa gemintang menjadi saksi
Penantian dalam yang ku simpan di hati
Tentang sebuah rasa yang sepi
Karena sebuah nama yang tanpa sengaja hinggapi
Penjaraku tak lagi senyap
Sebab pikirku kini tlah lenyap
Ikuti langkah kecilmu yang berderap

Hingga Waktu Menyulam Dirinya
Tertahun aku tertahan tak berlari
ingin berjalan saja tak berani
melupa pada terbersitnya pelangi sesudah hujan
menyarukan senyummu lekas-lekas ke peraduan
Aku rindu,
bertemu pada tatap sayu candamu
menyunggingkan lekukan mata mengedipkan tanya
menggoreskan suka pada harap yang kian melonjak
mengikiskan duka pada waktu hingga terasa mati
Sekelumit angin menerpa datang
tiada kuat tubuh menahan kering yang gersang
dahaga, lelah dan lapar
menyemukan bayangan sukma, raga, terlukis tertimpah rembulan
Aku menunggu,
menggengam tanganmu yang bukan ternyata adanya
sembilu menyayat sulur-sulur darah dan nadi
mengkhayal dipelukmu setinggi istana para peri
menggapainya saja butuh triliyunan anak tangga
Gelagar terbentang mengokohkan pelatar
membangun pondasi meninggikan atap
menanti hati menjadi serupa dan sediri
biar melumut rambut di badan
Aku menengadahkan hati,
memilih kasih menyayat kalbu
membiarkan pesona menipuku, menanti kau yang telah dimiliki
lagi-lagi ... lepas-lepas ... didahului seberkas mentari
Aku sungguh ...
Matahari yang tak sudi ada mentari yang lain
Namun,
Diriku hanya merupa setitik air dari samudera pembelenggumu
Salahku, tak menemuimu ketika
pagi ...
Dosaku, menjumpamu sesingkat
pagi ...
Kebodohanku tak menyadari
hingga waktu menyulam dirinya dengan benang tak terbatas
engkaulah itu

Waktu
Rasanya kuingin menyulam waktu. Menatap kembali ke masa lalu. Bercumbu dengan kenangan.
Di saat aku ingin memilikimu sepenuhnya. Tanpa memedulikan sesiapapun. Yang terpenting adalah kamu dan aku bersama. Merajut waktu di kala rindu mencuat.
Kuingin tetap tinggal di waktu lalu ini. Karena dengan bebas, aku bisa menatapmu di balik gorden ini. Menantimu berjalan menyusuri rumahku. Tertawa indah yang mampu membiusku ke dalam kehangatan.
Ah, waktu. Izinkan aku kembali, hanya sekadar mengucap rasa yang tertahan ini. Izinkan aku berjuang memilikinya. Izinkan aku selalu melihat senyum indahnya.
Biarkan aku menyulam waktu demi dia. Kurela berkorban demi dia. Ingin kubisikkan kata terindah padanya, bahwa aku mencintainya amat sangat.

Penantian Tanpa Ujung
Aku masih di sini
Menantimu untuk kembali
Ulangi kisah yang pernah tertulis
Dengan tinta merah pena cintamu
Kini setelah kau pergi
Hidupku hampa tanpa dirimu
Berselimut angin kesunyian
Mendekap rindu dalam sendu
Awan mendung hiasi wajah
Datangkan hujan air mata
Luapkan banjir penuh duka
Di dalam badai kerinduan
Hari-hariku sepi tanpamu
Malamku sunyi tanpa dirimu
Hatiku panas tidak terkira
Dibakar api gejolak rindu
Kini diriku telah terjebak
Dalam penantian tanpa ujung
Berharap dirimu kembali lagi
Kau... yang kini telah tiada

Selisik
Separuh detik
Angin datang pada musim klasik
Ada
Diaroma
Seratap duka dalam kurun tanpa masa
Pagi itu
Angin klasik menerobos dinding
Sedang, jarum kecil masih memeluk detik-detik panjang
Sepotong kain bernama waktu teronggok
Belum selesai sang penyulam bekerja, namun ia sudah merongok
Kain itu punyaku
Selisik
Detik klasik
Bisakah aku meminta kau melanjutkan langkah yang belum berirama?
Atau, bisakah aku meminta hal sederhana ;
Jadilah penyulam waktuku dengan detik-detik panjangmu.
Suatu tempat, suatu waktu

Aku; Wanita Separuh Baya
Adalah aku, wanita separuh baya yang lugu gaya
Hilang pesona digerus masa
Terbelenggu sepi
Terkungkung oleh histori janji
Setiap hari hanya menghitung mimpi-mimpi

Aku; wanita paruh baya
Tinggal separuh nyawa menata eloknya dunia
Tak ternyana selama ini dipenjara duka
Pada bayang-bayang fatamorgana merajut setia di langit senja Barat Daya

Malam-malam semakin mendiam, lalu berlalu
Tetapi aku, masih saja menyulam waktu
Tak bisa mengubur masa lalu dalam pekatnya kisah-kisah tabu

Aha
Aha!
Aha!
Aha!
Hari masih sore
Tanah masih basah
Angin masih mengalir
Pernak-pernik yang semula tercecer,
kini menyatu dalam rangkaian
Benang yang semula tebal,
kini tinggal beberapa helai
Bohlam yang semula benderang,
hanya temaram yang ia sisakan
Cinta,
Aku di sini
Siap menyambutmu dengan segala upaya
Menyuguhkan senyum terhangat
yang mungkin hanya kau dapati dariku
Cinta,
Kau masih ingat?
Bagaimana cantiknya diriku
Saat terakhir kali kau menatapku
Sekarang aku lebih cantik,
dari bidadari yang mungkin saat ini menemanimu
Aku tidak memakai gamis hitam seperti dulu
Aku tidak serapuh dulu
Ketika kau meninggalkan sebuah ucap
'Sabar'
Dan pergi dari gubuk terindah kita
Membiarkanku menyulam sendirian
Aku baru tersadar,
Cinta, itu dulu
Aku baru sadar bahwa sore tak pernah lagi ada
Tanah sudah mengering
Angin sudah berdebu
Dan kau tetap tak pulang
Membiarkanku dipeluk tangis
Yang menghujam sepanjang malam

Aku Penyulam Waktu
Sunyi memaku larik-larik rindu
Dalam dekap erat waktu
Kutatap sulaman itu
Yang kujalin perlahan dengan benang air mata
Bertaburan manik kisah episode lalu
Berhamburan helai tanya dukaku
"Akankah kisah ini cepat berlalu?" tanyaku pada angin
Mozaik kecil serpihan hati melayang pada kibaran angin berembus
Masih kusulam bait puisi pasi untukmu
Aku penyulam waktu
Mengurai kusai detik yang lama merindu
Kutunggu setengah kolase hatiku
Yang tertinggal entah
Dalam album waktumu

Lilin Putih Temanku
Lilin itu kini menyala
Di sini, di bawah pohon ini
Menemaniku menunggu puan kembali
Lilin itu masih menyala
Perlahan meleleh ke bawah
Masih terasa sedikit kehangatannya
Lilin itu menghiburku
Menari bersama angin senja
Kadang dinginnya memukul tulangku
Lilin itu hampir mati
Namun puan belum juga datang
Apakah lupa janji tadi pagi?
Lilin itu harus tetap menyala
Untuk menerangi langkah kakimu
Itupun jika kau ingat janjimu
Lilin itu benar mati
Menutup akhir puisi ini
Tanpa bertemu puan sama sekali
Lilin benar-benar hilang
Sekarang tanpa ada kehangatan
Daku meringkuk kedinginan dalam gelap malam

Gulma Tak Bernyawa
Dia menjelma kerdil
Terasing dalam kesepian panjang
Dingin, menggigil..
Mendekap angan di tepian petang
Dia mengerti,
Kepergian, ialah bait terakhir pada puisi
Pun tentang waktu tak' pernah berkeluh
Membawa kenangan yang tak jua utuh
Dia Ialah dirinya,
Dalam kisah gulma terluka
Menghitung tiap terbit dan terbenam
Menunggu takdir menghunus nyawa hingga ke akar

Aku Dan Kue Ulang Tahun
Hari ini aku merobek kalender baru
Belum terlewat
Namun mestinya sudah tamat
Ini bukan hari yang kutunggu
Ketika bayang wajah muncul satu-satu
Pecah tangis bayi yang membuncah
Dan pijak telapak yang kubimbing mengejarku
Hanya sekian tahun kenangan manis senyuman
Anak-anak yang menggenggam jemari
Hingga ke buaian....
Kini aku memang bangga pada mereka
Kedua kaki mereka telah cukup kuat berlari
Lebih jauh lagi
Lebih tangguh lagi
Bahkan jarang datang kembali
Kini aku harus tetap bangga
Ketika mereka tak punya sisa waktu
Sibuk mengejar impian dunia
Lupa hari ulang tahun ibunya
Esok hari ketika tanggal itu lewat
Sekotak kue tart datang
"Selamat ulang tahun Bunda"
Ujar kartu ucapan
Tanpa senyuman
Tanpa pelukan
Tanpa kerinduan
Dan aku harus tetap bahagia
Meniup lilin sendirian
Atau kubiarkan angin malam yang meniupnya
Juga pada sisa air mata
Dan keluhan yang sia-sia
Sembari melanjutkan sulaman
Sebagai kain penghias nisan
Siapa tahu mereka lupa
Pada tanggal lahir ibunya

Kala Rotasi Tak Berbalik Arah
Demi masa
Ayat Tuhan tlah ingatkan
Akankah manusia hargai
Perjalanan waktu
Rotasi takkan bisa berbalik arah
Perbaiki perbuatan yang terlanjur salah
Hanya maaf terlontar
Saat tersadar
Intan berlian takkan bisa beli
Berapapun nilainya
Tak sekalipun tergantikan
Takkan berulang
Kala insan meremehkan
Abaikan janji
Ia tlah kehilangan kepercayaan
Tinggalkan bekas lubang
Yang tak bisa tertambal
Hanya penyesalan datang
Di hari kemudian
Waktu bukanlah karet
Yang bisa diolor
Atau dianggap mirip celana kolor
Dibuat longgar
Agar bisa menghindar
Dengan berbagai dalih
Alibi ... modus … atau akal bulus
Waktu tak bisa disulam
Tutupi malu dan sesal
Meski sekecil lubang jarum
Waktu…
Sedetikpun sangat berharga

Doa Senjaku
Tibalah kita di ambang senja
Di rambutmu lembayung saga
Menjelma cendera pawana
Gemuruh jiwa berkidung merdu
Nyanyikan rindu laksana melagu
Dalam goresan bait puisi sendu
Oh, indahnya senyummu di mataku
Kusulam waktu dengan namamu
Takkan hilang seumur usiaku
Dalam diamku yang bertafakur
Berucap doa memanjatkan syukur
Untuk cinta yang tak terukur

Seduhan Waktu
Langit tak segelap.
Sekat-sekat jendela,
Yang menggigil bersama jemariku.
Menjerat yang begitu kukuhnya.
Telah tiba waktu pilihan.
Berstruktur abstraksi.
Di atas setumpuk jarum,
Sebagian patah, kuku-kuku.
Tak ingat sudah berapa lama,
Masa itu berlalu.
Kau lambungkan tanganmu,
Membantu menadah keringat.
Menyulam waktu bersamaku.
Aku hanya ada dalam kegelapan hitam dan menggigil.
Sertaan kertas putih ini.
Coretan terakhir teruntuk diriku.
Kau seduh dalam mimpi yang tak terbayang.
Helaian ini,
Tak akan sempurna.
Tapi kau benar-benar sudah tiada.
Dalam seduhan waktu,
Yang kita sulam bersama dulu.

Tags: #Menunggu #Puisi Waktu

Leave a reply "Kumpulan 18 Puisi Mengenai Waktu, Dan Menunggu"